Rabu, 29 November 2017

Acuan Praktik, Job SHEET Resusitasi Bayi Baru Lahir



AP (ACUAN PRAKTIK)
RESUSITASI BAYI BARU LAHIR
DI LABORATORIUM KEBIDANAN STIKIM



Disusun Oleh :
NAMA           : ARINI MUTIARA MANURUNG
NPM               :07170100149

PROGRAM STUDI D IV KEBIDANAN
SEKOLAH  TINGGI  ILMU  KESEHATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA
2017


AP (ACUAN PRAKTIK )

MATA KULIAH/ PRAKTIKUM              : Asuhan Kebidanan Neonatus
KODE MATA KULIAH/ SKS                   : Bd. 304 / 24 SKS
SEMESTER                                                  : III
SASARAN                                                     : Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia
MATERI POKOK                                       : Resusitasi Bayi Baru Lahir
WAKTU/ PERTEMUAN                            : 60 Menit
PROGRAM STUDI                                     : DIII Kebidanan

A.      Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator
1.      Standar Kompetensi/Tujuan pembelajaran
Dengan mempelajari mata kuliah ini mahasiswi diharapkan mampu melaksanakan praktik kebidanan yang di dasari oleh konsep dan sikap professional bidan khususnya dalam melakukan tindakan resusitasi.
2.      Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswi diharapkan mampu :
1.      Menjelaskan tanda perlu diperlukan resusitasi.
2.      Menjelaskan persiapan alat dan bahan resusitasi.
3.      Melakukan prosedur tindakan resusitasi .
4.      Melakukan tindakan ventilasi tekanan positif.
5.      Menjelaskan asuhan pasca resusitasi.
3.      Indikator
Setelah melakukan penyuluhan tentang Resusitasi Bayi Baru Lahir mahasiswa dapat:
1.      Menjelaskan tanda perlu dilakukan resusitasi.
2.      Mengidentifikasi persiapan alat pada asuhan resusitasi pada bayi baru lahir dengan baik dan benar.
3.      Mendemonstrasikan pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan sistematis.
4.      Mendemonstrasikan pelaksanaan ventilasi tekanan positif dengan benar.
5.      Menjelaskan asuhan pasca resusitasi dengan baik dan benar.
B.       Materi
Pengertian Dan Penanganan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
A. Definisi
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas scr spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999)
B. Etiologi / Penyebab Asfiksia
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:
1. Faktor ibu
  • Preeklampsia dan eklampsia
  • Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
  • Partus lama atau partus macet
  • Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
  • Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
·         Lilitan tali pusat
·         Tali pusat pendek
·         Simpul tali pusat
·         Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
·         Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
·         Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
·         Kelainan bawaan (kongenital)
·         Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi untuk menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya faktor risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong) tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu, penolong harus selalu siap melakukan resusitasi bayi pada setiap pertolongan persalinan.
C. Perubahan Patofiologis dan Gambaran Klinis
Pernafasan spontan BBL tergantung pada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan atau persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai suatu periode apnu disertai dengan penurunan frekuensi. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat ini terjadi bradikardi dan penurunan TD.
Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama hanya terjadi asidosis respioratorik. Bila berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya :
  1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung.
  2. Terjadinya asidosis metabolik yang akan menimbulkan kelemahan otot jantung.
  3. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan ke sistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan. (Rustam, 1998).
Gejala dan Tanda-tanda Asfiksia
·         Tidak bernafas atau bernafas megap-megap
·         Warna kulit kebiruan
·         Kejang
·         Penurunan kesadaran
D. Diagnosis
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia / hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu :

1. Denyut jantung janin
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya
2. Mekonium dalam air ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia.
(Wiknjosastro, 1999)
E. Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan tindakan lanjutan.
Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu :
·         Penafasan
·         Denyut jantung
·         Warna kulit
Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan positif (VTP).
F. Persiapan Alat Resusitasi
Sebelum menolong persalinan, selain persalinan, siapkan juga alat-alat resusitasi dalam keadaan siap pakai, yaitu :
  1. 2 helai kain / handuk.
  2. Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain, kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala bayi.
  3. Alat penghisap lendir de lee atau bola karet.
  4. Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal.
  5. Kotak alat resusitasi.
  6. Jam atau pencatat waktu.
(Wiknjosastro, 2007).
G. Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :
1. Memastikan saluran terbuka
– Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
– Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
– Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
2. Memulai pernafasan
– Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
– Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
3. Mempertahankan sirkulasi
– Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
– Kompresi dada.
– Pengobatan
Detail Cara Resusitasi
Langkah-Langkah Resusitasi
  1. Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
  2. Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada alas yang datar.
  3. Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).
  4. Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila mulut sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.
  5. Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi dan mengusap-usap punggung bayi.
  6. Nilai pernafasanJika nafas spontan lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis penfer lakukan observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi tekanan positif.
    1. Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan positif.
    2. Ventilasi tekanan positif / PPV dengan memberikan O2100 % melalui ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung dan mulut tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag beri bantuan dari mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 – 60 x / menit.
    3. Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10.
  1. 100 hentikan bantuan nafas, observasi nafas spontan.
  2. 60 – 100 ada peningkatan denyut jantung teruskan pemberian PPV.
  3. 60 – 100 dan tidak ada peningkatan denyut jantung, lakukan PPV, disertai kompresi jantung.
  4. < 10 x / menit, lakukan PPV disertai kompresi jantung.
  5. Kompresi jantung, perbandingan kompresi jantung dengan ventilasi adalah 3 : 1, ada 2 cara kompresi jantung :
a.       Kedua ibu jari menekan stemun sedalam 1 cm dan tangan lain mengelilingi tubuh bayi.
b.      Jari tengah dan telunjuk menekan sternum dan tangan lain menahan belakang tubuh bayi.
12.  Lakukan penilaian denyut jantung setiap 30 detik setelah kompresi dada.
13.  Denyut jantung 80x./menit kompresi jantung dihentikan, lakukan PPV sampai denyut jantung > 100 x / menit dan bayi dapat nafas spontan.
14.  Jika denyut jantung 0 atau < 10 x / menit, lakukan pemberian obat epineprin 1 : 10.000 dosis 0,2 – 0,3 mL / kg BB secara IV.
15.  Lakukan penilaian denyut jantung janin, jika > 100 x / menit hentikan obat.
16.  Jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian epineprin sesuai dosis diatas tiap 3 – 5 menit.
17.  Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut jantung tetap / tidak rewspon terhadap di atas dan tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat dengan dosis 2 MEQ/kg BB secara IV selama 2 menit. (Wiknjosastro, 2007)
Persiapan resusitasi
Agar tindakan untuk resusitasi dapat dilaksanakan dengan cepat dan efektif, kedua faktor utama yang perlu dilakukan adalah :
1. Mengantisipasi kebutuhan akan resusitasi lahirannya bayi dengan depresi dapat terjadi tanpa diduga, tetapi tidak jarang kelahiran bayi dengan depresi atau asfiksia dapat diantisipasi dengan meninjau riwayat antepartum dan intrapartum.
2. Mempersiapkan alat dan tenaga kesehatan yang siap dan terampil. Persiapan minumum antara lain :
– Alat pemanas siap pakai – Oksigen
– Alat pengisap
– Alat sungkup dan balon resusitasi
– Alat intubasi
– Obat-obatan
Prinsip-prinsip resusitasi yang efektif :
1. Tenaga kesehatan yang slap pakai dan terlatih dalam resusitasi neonatal harus rnerupakan tim yang hadir pada setiap persalinan.
2. Tenaga kesehatan di kamar bersalin tidak hanya harus mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga harus melakukannya dengan efektif dan efesien
3. Tenaga kesehatan yang terlibat dalam resusitasi bayi harus bekerjasama sebagai suatu tim yang terkoordinasi.
4. Prosedur resusitasi harus dilaksanakan dengan segera dan tiap tahapan berikutnya ditentukan khusus atas dasar kebutuhan dan reaksi dari pasien.
5. Segera seorang bayi memerlukan alat-alat dan resusitasi harus tersedia clan siap pakai.
(Dari berbagai sumber) 
C.    Alat
– Alat pemanas siap pakai
 – Oksigen
– Alat pengisap
– Alat sungkup dan balon resusitasi
– Alat intubasi
– Obat-obatan
D.      Metode dan Media
Metode                : Demonstrasi, role play
Media                  :     -     LCD
-          Laptop dan Power Point
-          Alat Tulis
-          Papan Tulis
E.     Langkah Pembelajaran
NO
Tahap Kegiatan
Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan mahasiswa
1
Pembukaan
(5 menit)
a.       Memberi salam pembuka
b.      Menginformasikan pokok materi yang akan dibahas.
c.       Menjelaskan tujuan pembelajaran
d.      Menyampaikan relevansi materi yang disampaikan dengan cara memberitahukan materi tersebut sangat penting bagi profesi bidan.
e.       Melakukan apersepsi dengan cara tanya jawab tentang bayi baru lahir

Menjawab salam
Memperhatikan
Memperhatikan
Memperhatikan
Menjawab
  2
Isi (50 menit)
a.       Menggali pengetahuan mahasiswa tentang pengertian resusitasi.
b.      Memberikan kesempatan kepada mahasiswa lain untuk memberikan jawaban.
c.       Memberikan penguatan kepada mahasiswa.
d.      Memberikan penjelasan mengenai tanda perlu dilakukan resusitasi pada bayi baru lahir.
e.       Mengidentifikasi persiapan peralatan dan perlengkapan dalam asuhan resusitasi pada bayi baru lahir.
f.       Menggali pengetahuan mahasiswa tentang peralatan dan asuhan resusitasi pada bayi baru lahir.
g.      Memberikan penguatan jawaban.
h.      Mendemonstrasikan prosedur pelaksanaan asuhan resusitasi pada bayi baru lahir.
i.        Mendemonstrasikan tindakan ventilasi tekanan positif.
j.        Menjelaskan asuhan pasca resusitasi.
k.      Memberikan kesempatan untuk bertanya.
l.        Meminta mahasiswa mendemonstrasikan asuhan resusitasi pada bayi baru lahir dengan benar.

Menjawab

Sumbang saran


Memperhatikan
Memperhatikan


Menjawab


Sumbang saran

Memperhatikan

Memperhatikan
Memperhatikan


Memperhatikan

Memperhatikan

Menjawab

3
Penutup (5 menit)
  1. Bersama mahasiwa menyimpulkan materi yang telah disampaikan.
  2. Memberikan pertanyaan terhadap materi yang telah diberikan.
  3. Menginformasikan kepada mahasiswa tentang materi yang akan datang.
  4. Memberikan salam penutup.

Memperhatikan

Menjawab

Memperhatikan


Menjawab


F.       Evaluasi
1.    Struktural
2.    Proses
3.    Hasil

G.    Daftar Pustaka/Referensi
2.       JNPK-KR. 2008. Asuhan persalinan Normal dan Inisiasi menyusu dini.
3.       Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi.4, Cet.3. Jakarta: Bina Pustaka
4.       Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Bina Pustaka.
5.       Sari, H. 2010. Buku Panduan Resusitasi Neonatus. Jakarta : Perinasia






                                                                        Jakarta, 14 November 2017
                                                                                    Dosen Pengajar

                                                                       (Arini M. Manurung STR.Keb)


JOB SHEET

MATA KULIAH/ PRAKTIKUM              : Asuhan Kebidanan Neonatus
KODE MATA KULIAH/ SKS                   : Bd. 304 / 24 SKS
SEMESTER                                                  : III
SASARAN                                                     : Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia
MATERI POKOK                                       : Resusitasi Bayi Baru Lahir
WAKTU/ PERTEMUAN                            : 60 Menit
PROGRAM STUDI                                     : DIII Kebidanan

A.    OBJEKTIF PERILAKU SISWA
Mahasiswa dapat :
  1. Mempersiapkan alat dan bahan untuk perasat resusitasi pada BBL asfiksia.
  2. Melaksanakan prosedur dan langkah-langkah resusitasi pada BBL asfiksia  secara sistematis.
B.     DASAR TEORI SINGKAT  
        (LAMPIRAN)
 
C.    PERALATAN DAN PERLENGKAPAN
– Alat pemanas siap pakai
 – Oksigen
– Alat pengisap
– Alat sungkup dan balon resusitasi
– Alat intubasi
– Obat-obatan

D.    REFERENSI

2.       JNPK-KR. 2008. Asuhan persalinan Normal dan Inisiasi menyusu dini.
3.       Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi.4, Cet.3. Jakarta: Bina Pustaka
4.       Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Bina Pustaka.
5.       Sari, H. 2010. Buku Panduan Resusitasi Neonatus. Jakarta : Perinasia




PROSEDUR PELAKSANAAN
NO.
LANGKAH KERJA
GAMBAR
Airway Tahap  I  Langkah Awal
1
Jaga bayi tetap hangat
  • Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas perut ibu atau sekitar 45 cm dari perineum

  • Selimuti bayi dengan kain tersebut, wajah, dada dan perut tetap terbuka, potong tali pusat

  • Pindahkan bayi yang telah diselimuti kain ke-1 ke atas kain ke-2 yang telah digelar di tempat resusitasi

  • Jaga bayi tetap diselimuti wajah dan dada terbuka di bawah pemancar panas.








2
Atur posisi bayi
  • Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas ibu atau sekitar 45 cm dari perineum
  • Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu.

3
Gunakan alat penghidap DeLee dengan cara sebagai berikut:
  • Isap lendir mulai dari mulut dahulu, kemudian hidung
  • Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada waktu dimasukkan
  • Jangan lakukan pengisapan terlalu dalam yaitu jangan lebih dari 5 cm ke dalam mulut karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat atau bayi tiba-tiba berhenti bernapas. Untuk hidung jangan melewati cuping hidung.

4
Keringkan dan rangsang bayi
  • Keringkan bayi dengan kain ke-1 mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. Tekanan ini dapat merangsang BBL mulai menangis
  • Rangsangan taktil berikut dapat juga dilakukan untuk merangsang BBL mulai bernapas:
    • Menepuk/ menyentil telapak kaki; atau
    • Menggosok punggung/ perut/ dada/ tungkai bayi dengan telapak tangan
  • Ganti kain ke-1 yang telah basah dengan kain ke-2 yang kering dibawahnya
  • Selimuti bayi dengan kain kering tersebut, jangan menutupi muka dan dada agar bisa memantau pernapasan bayi.





5
 Atur kembali posisi kepala bayi
  • Atur kembali posisi bayi menjadi posisi menghidu


Langkah penilaian bayi
Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau megap-megap
  • Bila bayi bernapas normal: lakukan asuhan pasca resusitasi
  • Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas: mulai lakukan ventilasi bayi.

BREATHING (VTP)
6
 Pasang sungkup
Pilih sungkup yang tepat, tempatkan sungkup pada muka bayi, sehingga menutupi dagu, mulut dan hidung.

Pastikan sungkup menutup secara rapat sehingga tidak ada udara keluar.
Pasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.

8




9






10







Peras kantong hanya dengan dua jari atau seluruh tangan tergantung besarnya balon dengan tekanan yang tidak terlalu kuat.


jika dada tidak mengembang, atur kembali
 posisi kepala dan sungkup muka, lalu coba lagi dengan tekanan yang sedikit lebih besar.


Lakukan ventilasi dengan kecepatan  40 – 60 kali per menit.  Tekanan ventilasi untuk nafas pertama 30-40 cmH2O, setelah nafas pertama butuh tekanan 15- 20 cmH2O.

v  Setelah 1 menit, periksa pernafasan spontan dan periksa denyut jantungnya. Jika bayi mulai menangis, hentikan ventilasi dan amati pernafasan, bila pernafasan normal (30-60 kali/menit), tidak perlu resusitasi lanjut.

v  Jika pernafasan lambat (<30 kali per menit), atau terjadi retraksi, lanjutkan ventilasi dan lakukan kompresi dada





KOMPRESI DADA
1
11
Cari sternu dan atur posisi jari-jari tepat di bawah garis putting di tengah dada.

Tekan langsung rongga dada dengan ibu jari, lakukan penekanan sternum sekitar 1,5 cm tiga kali setiap 2 detik dan kemudian berikan satu kali pernafasan. Tiap periode 3 kali kompresi dan satu kali ventilasi diberikan dalam 2 detik. Dalam 1 menit memberikan 90 kompresi dan 30 ventilasi (ratio 3 : 1).

Cara lain :
Melingkari dada dengan kedua tangan dan menempatkan kedua jari pada sternum dan jari lainnya di punggung bayi.

Kedua ibu jari digunakan menekan sternum sambil jari-jari lainnya memberikan tahanan yang diperlukan dari bagian belakang.

Nilai denyut jantung setelah 30 detik. Jika denyut jantung masih <80, lanjutkan ventilasi dan kompresi jantung. Jika denyut jantung >80, lanjutkan ventilasi sampai timbul nafas spontan, tetapi hentikan kompresi jantung. Jika denyut jantung <60 kali/menit, siapkan rujukan.








                            
Asuhan pasca resusitasi
Setelah tindakan resusitasi, diperlukan asuhan pasca resusitasi yang merupakan perawatan intensif selama 2 jam pertama. Asuhan yang diberikan sesuai dengan hasil resusitasi (asuhan pasca resusitasi)yaitu:
  • Jika resusitasi berhasil
  • Jika perlu rujukan
  • Jika resusitasi tidak berhasil

PENCEGAHAN INFEKSI
12








13
Masih menggunakan sarung tangan, masukkan peralatan kedalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5% dan cuci tangan dengan larutan klorin, kemudian lepaskan sarung tangan secara terbalik dan rendam selama 10 menit.





Cuci tangan hingga lengan dengan sabun dan air bersih di bawah air mengalir kemudian keringkan tangan dengan handuk bersih.





EVALUASI
1.      Seluruh langkah kerja diselesaikan dengan urutan yang benar.
2.      Aturan keselamatan kerja diikuti selama prosedur pelaksanaan
3.      Memperhatikan prinsip pencegahan Infeksi
4.      Memperhatikan prinsip pencegahan infeksi
DAFTAR TILIK
RESUSITASI PADA BBL
Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sebagai berikut :
0. Kurang             :Bila langkah klinik tidak dilakukan
1. Cukup              :Langkah klinik dilakukan tetapi tidak mampu mendemonstrasikan sesuai prosedur
2. Mampu            :Langkah klinik dilakukan dengan bantuan, kurang terampil atau kurang cekatan
                             dalam mendemonstrasikan dan waktu yang diperlukan relative lebih lama
                              menyelesaikan tugas
3. Baik                 :Langkah klinik dilakukan dengan bantuan, kurang percaya diri. Kadang-kadang
                              tampak cemas dan memerlukan waktu yang dapat dipertanggung jawabkan
4. Sangat Baik     : Langkah klinik dilakukan dengan benar dan tepat sesuai dengan teknik prosedur
                              dalam lingkup kebidanan dan waktu efisien


No
Langkah Kerja
PENILAIAN
0
1
2
3
4
A
PERSIAPAN






PERSIAPAN TEMPAT





1

-          Menyiapkan ruangan yang hangat, tidak ada angina, menyalakan lampu.
-          Menyiapkan tempat resusitasi yang rata, keras, bersih, kering dan hangat






PERSIAPAN ALAT





2
·         Menyediakan tiga helai kain (Handuk, selimut, ganjal)
·         Menyiapkan alat penghisap lendir Dee Lee dalam kotak alat steril
·         Menyiapkan alat resusitasi tabung dan sungkup dalam kotak alat steril
·         Menyiapkan sepasang sarung tangan karet
·         Menyiapkan jam atau pencatat waktu (Stop watch)
·         Menggelar kain kesatu diperut ibu atau dekat perineum ibu untuk mengeringkan bayi
·         Menggelar kain kedua ditempat resusitasi untuk membungkus bayi
·         Menggulung kain ketiga untuk ganjal bahu bayi dibawah kain kedua
·         Meletakan kotak alat dekat tempat resusitasi






PERSIAPAN PASIEN





4
Membahas dengan keluarga persiapan persalinan dan resusitasi BBL





5
Jaga bayi tetap hangat dan  Atur Posisi Bayi





B
TINDAKAN





6
Memberitahu ibu dan keluarga sambil memulai langkah awal





7
Memotong tali pusat dengan cepat, tidak diikat atau dibubuhi apapun





8
Melakukan isapan lender pada mulut dulu, sedalam <5 cm.





9
Melakukan isapan lender sedalam <3 cm.





10
Mengisap lender sewaktu menarikkeluar tidak waktu memasukannya





11
Keringkan dan rangsang bayi





12
Mengeringkan bayi mulai muka, tubuh dengan sedikit tekanan.





13
Menepuk atau menyentil telapak kaki bayi





14
Menggosok punggung, perut, dada atau tungkai bayi dengan telapak tangan





15
Atur kembali posisi kepala bayi dan bungkus bayi





16
Mengganti kain kesatu yang basah dengan kain dibawahnya yang kering





17
Membungkus bayi dengan kain yang kering, muka dan dada terbuka.





18
Mengatur kembali posisi kepala bayi agar sedikit ekstensio.






Lakukan Penilaian Bayi





19
Menilai bayi bernafas normal, tidak bernafas atau megap-megap





20
Memberikan bayi pada ibu bila bernafas normal.





21
Meletakan kedada ibu dan menyelimuti bayi bersama ibunya.





22
Menganjurkan ibu segera menyusui bayinya.





23
Mulai ventilasi bila bayi tak bernafas, megap-megap, nafas lemah.






Bila air ketuban bercampur mekonium lakukan langkah berikut





24
Menilai apa bayi bernafas atau tidak






Bila bayi tidak bernafas





25
Membuka lebar mulut bayi, usap mulut bayi, mengisap lender.






Menilai apakah bayi bernafas atau tidak.





26
Bila bayi bernafas






Ventilasi






Pasang sungkup





27
Memasang sungkup pada mulut bayi, menutup hidung, mulut, dagu.






LakukanVentilasi 2 x





28
Meniup udara kemulut bayi2x dengan tekanan 30 mm air.





29
Melihat apakah dada bayi mengembang setelah ditiup 2x.






Bila dada bayi tidak berkembang:





30
Memeriksa posisi kepala agar sedikit ekstensio.





31
Memeriksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara bocor.





32
Memeriksa apa ada cairan atau lendir dimulut dan menghisap bila ada.





33
Mengulangi ventilasi 2x dengan tekanan 30 mm air dan menilai kembali.






Bila dada bayi berkembang.





34
Melanjutkan langkah ventilasi bila dada bayi berkembang.






Lakukan ventilasi 20x dalam 30 detik.





35
Melakukan ventilasi sebanyak 20x dalam 30 detik.






Bila bayi bernafas normal :





36
Menghentikan ventilasi bila bayi mulai bernafas normal.





37
Memantau bayi dengan seksama.






Bila bayi belum bernafas.





38
Mengulangi ventilasi kembali bila bayi belum bernafas.






Hentikan ventilasi dan nilai setiap 30 detik.





39
Menghentikan ventilasi setiap 30 detik.





40
Menilai bayi apakah bernafas normal, tidak bernafas, megap-megap.






Bila Bayi mulai bernafas normal :





41
Menghentikan ventilasi Bila bayi mulai bernafas normal.





42
Memantau bayi dengan seksama.






Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap.





43
Meneruskan ventilasi 20 kali/30 detik bila tak bernafas, megap-megap.





44
Menghentikan ventilasi dan menilai kembalisetiap 30 detik.






Bila bayi tak bernafas spontan sesudah 2-3 menit resusitasi





45
Meneruskan ventilasi dengan interval 30 detik





46
Menyiapkan rujukan bayi bersama ibunya sesuai pedoman.






Bila bayi tak bernafas sesudah ventilasi selama 20 menit.





47
Menghentikan resusitasi setelah ventilasi selama 20 detik.






PASCA RESUSITASI





48
Mengikat tali pusat, tidak dibubuhi apapun, tidak dibungkus.





C
DEKONTAMINASI





49
Melepaskan sarung tangan.





50
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.





D
EVALUASI
·         Seluruh langkah kerja diselesaikan dengan urutan yang benar.
·         Aturan keselamatan kerja diikuti selama prosedur pelaksanaan
·         Memperhatikan prinsip pencegahan Infeksi
·         Memperhatikan prinsip pencegahan infeksi







Jakarta, 14 November 2017
Pembimbing :

(Nurwita, S,ST, Mkes

1 komentar:

  1. TERIMA KASIH UNTUK POSTINGANNYA MBAK,,,MEMBANTU TUGAS KULIAH SAYA

    BalasHapus